"Wah berat sekali judulnya ini, bisa nggak mencari buku-buku rujukannya," kataku setelah membaca isi formuliar pesanan yang telah ia isi itu.
"Nanti kuusahakan cari buku rujukannya kak," janjinya.
"Tapi judul ini nampaknya perlu juga penelitian lapangan dik, karena menyangkut problem rumah tangga yang nggak sulit ditemukan faktanya di daerah kita ini. Lagi pula saya yakin buku rujukannya sangat terbatas, sehingga perlu ditunjang dengan hasil wawancara atau angket," alasanku.
"Jadi bagaimana caranya kak? Apa aku harus wawancara dengan mereka yang selingkuh?" tanya Sri sambil ketawa seolah ia malu melaksanakannya.
"Nanti kuusahakan cari buku rujukannya kak," janjinya.
"Tapi judul ini nampaknya perlu juga penelitian lapangan dik, karena menyangkut problem rumah tangga yang nggak sulit ditemukan faktanya di daerah kita ini. Lagi pula saya yakin buku rujukannya sangat terbatas, sehingga perlu ditunjang dengan hasil wawancara atau angket," alasanku.
"Jadi bagaimana caranya kak? Apa aku harus wawancara dengan mereka yang selingkuh?" tanya Sri sambil ketawa seolah ia malu melaksanakannya.
"Apa adik nggak mampu melakukannya atau malu?" tanyaku singkat.
"Aku sangat malu kak, palagi bicara soal rumah tangga, tentang selingkuh lagi, khan nggak enak rasanya kak" katanya terus terang.
"Aku sangat malu kak, palagi bicara soal rumah tangga, tentang selingkuh lagi, khan nggak enak rasanya kak" katanya terus terang.
"Gimana kalau anda beri surat kuasa padaku, biar aku yang wawancara sama teman atau orang lain yang kuketahui selingkuh," tawaranku padanya.
"Wah, malah itu jalan yang terbaik kak. Buat aja surat kuasanya kak, nanti kutandatangani. Soal biaya yang kakak keluarkan sehubungan dengan penelitian ini, aku siap tanggulangi semuanya asal bukan saya yang disuruh melakukannya," katanya seolah gembira sekali menyambutnya.
"Tapi terus terang aja dik, mungkin aku hanya minta kepada mereka agar bersedia menandatangani surat keterangan penelitiannya. Soal kejadian dan dampaknya, biar aku yang rekayasa kalimatnya," jelasku pada Sri.
"Nggak masalah kak. Yang penting karya ilmiahku bisa selesai dan ditandatangani oleh pembimbing serta aku bisa ikut ujian meja bersama teman-teman dalam waktu dekat ini," katanya pasrah padaku.
"Wah, malah itu jalan yang terbaik kak. Buat aja surat kuasanya kak, nanti kutandatangani. Soal biaya yang kakak keluarkan sehubungan dengan penelitian ini, aku siap tanggulangi semuanya asal bukan saya yang disuruh melakukannya," katanya seolah gembira sekali menyambutnya.
"Tapi terus terang aja dik, mungkin aku hanya minta kepada mereka agar bersedia menandatangani surat keterangan penelitiannya. Soal kejadian dan dampaknya, biar aku yang rekayasa kalimatnya," jelasku pada Sri.
"Nggak masalah kak. Yang penting karya ilmiahku bisa selesai dan ditandatangani oleh pembimbing serta aku bisa ikut ujian meja bersama teman-teman dalam waktu dekat ini," katanya pasrah padaku.
"Silahkan duduk dik," kata istriku setelah Sri masuk.
"Langsung aja gabung di sini dik, kita makan sama-sama," teriakku dari dalam ruang makan.
"Langsung aja gabung di sini dik, kita makan sama-sama," teriakku dari dalam ruang makan.
"Terima kasih kak. Teruskan aja makannya. Aku baru aja makan di rumah," teriak Sri dari luar setelah ia duduk di kursi tamu yang tersedia.
"Begini Sri, aku sengaja memanggilmu ke sini untuk membicarakan soal kesimpulan penelitian yang akan saya muat dalam karya ilmiah anda. Aku takut kerja dua kali. Jadi sebelum aku muat, aku mau minta tanggapan dan keputusanmu dulu," jelasku ketika aku selesai makan dan duduk berhadapan dengan Sri.
"Begini Sri, aku sengaja memanggilmu ke sini untuk membicarakan soal kesimpulan penelitian yang akan saya muat dalam karya ilmiah anda. Aku takut kerja dua kali. Jadi sebelum aku muat, aku mau minta tanggapan dan keputusanmu dulu," jelasku ketika aku selesai makan dan duduk berhadapan dengan Sri.
"Atur sajalah kak mana baiknya. Aku serahkan penuh keputusannya semua pada kak, karena kakaklah yang lebih tahu mengenai hal ini semua," katanya pasrah, meskipun ia belum tahu niat dan spekulasiku memanggilnya.
"Sri, terus terang dik.. Ada sesuatu yang akan saya tawarkan padamu, tapi aku malu dan takut kamu tersinggung dan marah padaku," kataku pada Sri dengan suara sedikit pelan karena takut kedengaran istri.
"Katakan saja kak, aku nggak akan tersinggung kok, apalagi marah. Itu bukan watakku. Lagi pula kenapa mesti marah jika memang itu adalah kepentingan penyusunan karya ilmiahku. Aku siap bantu kak sepanjang aku mampu," kata Sri tanpa ragu dan berpikir curiga atas maksudku.
"Sri, terus terang dik.. Ada sesuatu yang akan saya tawarkan padamu, tapi aku malu dan takut kamu tersinggung dan marah padaku," kataku pada Sri dengan suara sedikit pelan karena takut kedengaran istri.
"Katakan saja kak, aku nggak akan tersinggung kok, apalagi marah. Itu bukan watakku. Lagi pula kenapa mesti marah jika memang itu adalah kepentingan penyusunan karya ilmiahku. Aku siap bantu kak sepanjang aku mampu," kata Sri tanpa ragu dan berpikir curiga atas maksudku.
"Jadi kira-kira bagaimana baiknya kak agar kesulitan kak bisa teratasi"
"Rela nggak berkorban demi penyelesaian karya ilmiahnya dik?" tanyaku.
"Sepanjang aku mampu, tentu saja aku akan usahakan kak. Khan sudah berulang-ulang kali kukatakan pada kak," katanya sedikit tegas, namun entah apa ia tahu apa yang akan kuminta darinya atau sama sekali tidak terpikir olehnya.
"Rela nggak berkorban demi penyelesaian karya ilmiahnya dik?" tanyaku.
"Sepanjang aku mampu, tentu saja aku akan usahakan kak. Khan sudah berulang-ulang kali kukatakan pada kak," katanya sedikit tegas, namun entah apa ia tahu apa yang akan kuminta darinya atau sama sekali tidak terpikir olehnya.
"Betul? Janji?" tanyaku tegas sambil mengulurkan tangan untuk salaman dengannya sebagai tanda perjanjian kami. Sri pun menyambut tanganku.
"Mumpung istriku masih di dalam Sri, kita bisa atur strateginya saat ini juga, sebab tawaranku ini sangat rahasia dan hanya kita berdua yang bisa ketahui," kataku sangat pelan dan hanya bisa didengar oleh Sri.
"Mumpung istriku masih di dalam Sri, kita bisa atur strateginya saat ini juga, sebab tawaranku ini sangat rahasia dan hanya kita berdua yang bisa ketahui," kataku sangat pelan dan hanya bisa didengar oleh Sri.
"Jadi gimana caranya kak? Rahasia bagaimana yang kak maksudkan. Katakan aja sekarang agar aku tidak penasaran untuk mendengarnya," desaknya.
"Aku akan menulis pertanyaan rahasia itu di komputer dan kamu menjawab langsung dengan kata 'ya' jika setuju dan 'tidak' jika tidak setuju ketika aku bertanya padamu begini?."
"Kamu harus pura-pura membacakan isi sebuah buku tentang kehidupan rumah tangga yang harmonis, sebab kebetulan judul buku itu ada di sini dan aku seolah-olah menulis apa yang kamu bacakan, meskipun sebenarnya yang kutulis di komputer nanti adalah sejumlah pertanyaan yang harus kamu jawab 'ya' atau 'tidak'" jelasku pada Sri meskipun ia tidak segera memahami maksudku, namun setelah aku menjelaskannya beberapa kali, akhirnya iapun mengerti.
"Aku akan menulis pertanyaan rahasia itu di komputer dan kamu menjawab langsung dengan kata 'ya' jika setuju dan 'tidak' jika tidak setuju ketika aku bertanya padamu begini?."
"Kamu harus pura-pura membacakan isi sebuah buku tentang kehidupan rumah tangga yang harmonis, sebab kebetulan judul buku itu ada di sini dan aku seolah-olah menulis apa yang kamu bacakan, meskipun sebenarnya yang kutulis di komputer nanti adalah sejumlah pertanyaan yang harus kamu jawab 'ya' atau 'tidak'" jelasku pada Sri meskipun ia tidak segera memahami maksudku, namun setelah aku menjelaskannya beberapa kali, akhirnya iapun mengerti.
"Silahkan diminum dik, kebetulan nggak ada tulangnya nih," canda istriku.
"Terima kasih bu', aku merepotkan aja," kata Sri pada istriku.
"Silahkan diminum dulu dik, atau kita bawa aja masuk di kamar komputer sambil anda membacakan datanya biar proses penyusunannya agak cepat," kataku dengan suara yang sedikit besar agar didengar langsung oleh istriku yang sedang duduk di sampingku sambil aku berdiri membawa secangkir teh masuk ke kamar kerjaku dan disusul pula oleh Sri setelah minta izin sama istriku, bahkan istriku sendiri yang membawakan tehnya dan meletakkannya di atas meja komputer lalu minta izin pada kami untuk nonton acara TV Sinetron kesukaannya yakni Kehormatan di ruang dalam.
"Terima kasih bu', aku merepotkan aja," kata Sri pada istriku.
"Silahkan diminum dulu dik, atau kita bawa aja masuk di kamar komputer sambil anda membacakan datanya biar proses penyusunannya agak cepat," kataku dengan suara yang sedikit besar agar didengar langsung oleh istriku yang sedang duduk di sampingku sambil aku berdiri membawa secangkir teh masuk ke kamar kerjaku dan disusul pula oleh Sri setelah minta izin sama istriku, bahkan istriku sendiri yang membawakan tehnya dan meletakkannya di atas meja komputer lalu minta izin pada kami untuk nonton acara TV Sinetron kesukaannya yakni Kehormatan di ruang dalam.
"Begini tulisannya?" kataku seolah menulis apa yang dibaca itu, namun aku menuliskan pertanyaan bahwa "Apa anda siap duduk di situ hingga jam 10 malam?" tulisku di layar komputer.
"Ya," jawab Sri di sela-sela kalimat yang dibacanya.
"Begini?" tanyaku lagi sambil menulis pertanyaanku, "Anda bisa maju dan bergeser ke arahku agak lebih dekat lagi?"
"Ya," jawab Sri lagi sambil menggeser kursinya agak lebih dekat lagi.
"Ya," jawab Sri di sela-sela kalimat yang dibacanya.
"Begini?" tanyaku lagi sambil menulis pertanyaanku, "Anda bisa maju dan bergeser ke arahku agak lebih dekat lagi?"
"Ya," jawab Sri lagi sambil menggeser kursinya agak lebih dekat lagi.
"Ayo kita lanjutkan sedikit Sri mumpung masih belum larut malam," kataku sambil sedikit bergeser ke arah kursi Sri.
"Begini Sri?" tanyaku dengan tekanan suara yang mulai rendah sambil memperlihatkan sebuah pertanyaan lagi dengan kalimat "Apa pacarmu pernah mengelus-elus pahamu?".
Sri lalu menjawab, "Ya". Namun ia sangat kaget dan tersentak sejenak ketika aku bertanya,
"Seperti ini?" sambil kupegang dan kuelus pahanya yang dilapisi celana panjangnya yang agak tipis dan halus kainnya.
"Yyya.. Ah.. Titidak" jawabnya seolah ketakutan.
"Begini Sri?" tanyaku dengan tekanan suara yang mulai rendah sambil memperlihatkan sebuah pertanyaan lagi dengan kalimat "Apa pacarmu pernah mengelus-elus pahamu?".
Sri lalu menjawab, "Ya". Namun ia sangat kaget dan tersentak sejenak ketika aku bertanya,
"Seperti ini?" sambil kupegang dan kuelus pahanya yang dilapisi celana panjangnya yang agak tipis dan halus kainnya.
"Yyya.. Ah.. Titidak" jawabnya seolah ketakutan.
"Tenang Sri, istri dan anak-anakku sedang tidur," bisikku pada Sri ketika ia mencoba menghindar dari perlakuanku, namun ia duduk kembali setelah melihat dengan jelas istriku sedang tidur pulas di depan TV melalui celah pintu yang sedikit terbuka.
"Kenapa harus sampai begini kak? Aku malu, takut dan tidak biasa diperlakukan seperti ini" tanyanya padaku dengan suara sedikit berbisik namun cukup mengerti kalau kami harus bertindak super hati-hati.
"Maaf dik, jika ini terpaksa harus kita lakukan di tempat ini, bukankah adik sendiri yang telah berjanji akan memberikan pengorbanan sesuai kemampuannya asal penyusunan karya ilmiahnya berjalan lancar?" kataku terus terang dan mengingatkan janjinya.
"Wah, ternyata kak menafsirkan sampai ke situ. Aku nggak pernah berpikir sampai ke hal itu kak, tapi.. " katanya seolah tidak tahu arahku ke situ. Namun aku yakin ia tidak bakal menolak tindakanku lebih jauh karena Sri tiba-tiba berucap "tapi.." yang menandakan adanya peluangku lebih jauh.
"Kenapa harus sampai begini kak? Aku malu, takut dan tidak biasa diperlakukan seperti ini" tanyanya padaku dengan suara sedikit berbisik namun cukup mengerti kalau kami harus bertindak super hati-hati.
"Maaf dik, jika ini terpaksa harus kita lakukan di tempat ini, bukankah adik sendiri yang telah berjanji akan memberikan pengorbanan sesuai kemampuannya asal penyusunan karya ilmiahnya berjalan lancar?" kataku terus terang dan mengingatkan janjinya.
"Wah, ternyata kak menafsirkan sampai ke situ. Aku nggak pernah berpikir sampai ke hal itu kak, tapi.. " katanya seolah tidak tahu arahku ke situ. Namun aku yakin ia tidak bakal menolak tindakanku lebih jauh karena Sri tiba-tiba berucap "tapi.." yang menandakan adanya peluangku lebih jauh.
"Sri, kita tidak boleh menunda-nunda permainan ini. Kita harus segera tuntaskan siapa tahu istri saya terbangun lalu heran kenapa nggak ada suara-suara kita seperti tadi. Ayo bantu aku dik," bisikku di telinga Sri ketika aku dan mungkin Sri juga terangsang, apalagi tiba-tiba diliputi rasa takut.
"Yah kak, aku takut sekali. Cepat-cepat selesaikan kak," balas Sri seolah menerima baik tindakanku ini.
"Yah kak, aku takut sekali. Cepat-cepat selesaikan kak," balas Sri seolah menerima baik tindakanku ini.
"Sssttt... Aahhh... Khkh... Cceeepat kak selesaikan, aku sudah nggak tahan nih," bisik Sri ditelingaku ketika aku semakin memainkan mulut dan tanganku pada kedua alat sensitifnya itu sambil berusaha menurunkan sedikit celananya hingga lutut.
"Sabar dik, aku nggak mau rasanya berhenti dan ingin menikmati sampai pagi," bisikku sambil mempercepat gerakan tangan dan mulutku.
"Sabar dik, aku nggak mau rasanya berhenti dan ingin menikmati sampai pagi," bisikku sambil mempercepat gerakan tangan dan mulutku.
"Selamat sore Sri" ucapanku setelah kubuka pintu rumahnya.
"Silahkan duduk kak, tidak usah malu-malu. Saya hanya sendirian kok" kata Sri setelah aku berdiri di ruang tamunya seolah ia sengaja agar aku tidak segan-segan bertindak dan berbicara dengannya.
"Ke mana semua keluarga Sri? Kok kamu berani sendirian di rumah?" tanya aku ketika sedang duduk di kursi sofanya yang empuk itu.
"Mereka semua jenguk nenek yang sedang sakit di kampung kak," katanya.
"Tapi adik Sri memang terbiasa ditinggal sendirian di rumah?" tanyaku.
"Wah itu soal biasa kak. Khan nggak ada yang ditakutkan sebab di sini cukup aman, lagi pula di lingkungan ini cukup ramai" jawabnya lagi.
"Silahkan duduk kak, tidak usah malu-malu. Saya hanya sendirian kok" kata Sri setelah aku berdiri di ruang tamunya seolah ia sengaja agar aku tidak segan-segan bertindak dan berbicara dengannya.
"Ke mana semua keluarga Sri? Kok kamu berani sendirian di rumah?" tanya aku ketika sedang duduk di kursi sofanya yang empuk itu.
"Mereka semua jenguk nenek yang sedang sakit di kampung kak," katanya.
"Tapi adik Sri memang terbiasa ditinggal sendirian di rumah?" tanyaku.
"Wah itu soal biasa kak. Khan nggak ada yang ditakutkan sebab di sini cukup aman, lagi pula di lingkungan ini cukup ramai" jawabnya lagi.
"Apakah kak juga merasa puas seperti aku?" tanya Sri serius.
"Aku puas menikmati tubuhmu dik, cuma aku belum sampai ke puncaknya" jawabku sambil memeluk Sri dan meletakkan paha kananku menindis vagina montoknya yang belum banyak ditumbuhi bulu-bulu itu.
"Jadi kak mau lanjutkan untuk menuju ke puncak sekarang" tanya Sri sambil tersenyum, lalu kembali memelukku dengan erat.
"Sebelumnya aku mohon maaf dik Sri. Banyak sekali teknik dan gaya sex yang ingin kutunjukkan padamu, tapi kulihat Sri sudah terlalu capek dan sudah cukup menikmati perselingkuhan kita hari ini, maka aku rasa adik tidak keberatan jika ronde kedua ini hanya untuk kenikmatan pribadiku" kataku hati-hati pada Sri agar ia tidak tersinggung.
"Terima kasih kak atas kebijaksanaannya. Aku justru senang dan merasa berkewajiban melayani kak hingga puncak kepuasan. Masa sih aku senang sendiri membiarkan kak pulang dengan rasa penasaran tanpa kesan puas" kata Sri pasrah, bahkan merasa berkewajiban untuk memuaskanku.
"Terima kasih dik atas kesediaannya, mmm... Cup..." kataku lalu mengecup bibirnya berkali-kali sebagai tanda kegembiraanku.
"Aku puas menikmati tubuhmu dik, cuma aku belum sampai ke puncaknya" jawabku sambil memeluk Sri dan meletakkan paha kananku menindis vagina montoknya yang belum banyak ditumbuhi bulu-bulu itu.
"Jadi kak mau lanjutkan untuk menuju ke puncak sekarang" tanya Sri sambil tersenyum, lalu kembali memelukku dengan erat.
"Sebelumnya aku mohon maaf dik Sri. Banyak sekali teknik dan gaya sex yang ingin kutunjukkan padamu, tapi kulihat Sri sudah terlalu capek dan sudah cukup menikmati perselingkuhan kita hari ini, maka aku rasa adik tidak keberatan jika ronde kedua ini hanya untuk kenikmatan pribadiku" kataku hati-hati pada Sri agar ia tidak tersinggung.
"Terima kasih kak atas kebijaksanaannya. Aku justru senang dan merasa berkewajiban melayani kak hingga puncak kepuasan. Masa sih aku senang sendiri membiarkan kak pulang dengan rasa penasaran tanpa kesan puas" kata Sri pasrah, bahkan merasa berkewajiban untuk memuaskanku.
"Terima kasih dik atas kesediaannya, mmm... Cup..." kataku lalu mengecup bibirnya berkali-kali sebagai tanda kegembiraanku.
"Kak, agak sakit kak. Aku kurang enak melakukan posisi seperti ini. Gimana kalau kak tidur terlentang lalu aku yang aktif menduduki burung kak? Nggak keberata khan?" tawaran Sri seolah tidak suka nungging.
"Tidak masalah dik. Posisi apa saja asalkan kak bisa muncrat" kataku sambil mengeluarkan penisku dari dalam vaginanya dan terus tidur dengan sedikit mengganjal pinggulku dengan bantal kepala agar posisi penisku bisa lebih ke depan dan terasa lebih panjang masuk ke vaginanya.
"Tidak masalah dik. Posisi apa saja asalkan kak bisa muncrat" kataku sambil mengeluarkan penisku dari dalam vaginanya dan terus tidur dengan sedikit mengganjal pinggulku dengan bantal kepala agar posisi penisku bisa lebih ke depan dan terasa lebih panjang masuk ke vaginanya.
"Kak, kenapa termenung? Apa kak kecewa dan tak puas atas layananku tadi atau menyesal memenuhi panggilanku ke sini?" tanya Sri saat aku terdiam sejenak memikirkan akibat perbuatan kami. Teguran Sri membuatku kaget.
"Tttitidak, aku hanya takut kamu tidak puas dan kecewa tadi" alasanku.
"Saya tahu yang kak pikir, pasti takut aku tidak bayar biaya penyusunan karya ilmiah itu, yah khan?" kata Sri mencoba menebak isi pikiranku.
"Bukan itu dik, aku sama sekali tak pikir ke situ. Lagi pula aku berat dan malu memikirkan hal itu setelah Sri memberiku segalanya" kataku.
"Lalu apa yang kak pikirkan? Jangan-jangan kak takut dimarahi istrinya. Jangan khawatir kak, khan masih belum larut malam. Kak bisa buat alasan yang bisa meyakinkan istrinya. Masa sih dekat istri kak bisa selingkuh denganku, lalu hanya soal pulang terlambat tidak bisa diakali" katanya.
"Tttitidak, aku hanya takut kamu tidak puas dan kecewa tadi" alasanku.
"Saya tahu yang kak pikir, pasti takut aku tidak bayar biaya penyusunan karya ilmiah itu, yah khan?" kata Sri mencoba menebak isi pikiranku.
"Bukan itu dik, aku sama sekali tak pikir ke situ. Lagi pula aku berat dan malu memikirkan hal itu setelah Sri memberiku segalanya" kataku.
"Lalu apa yang kak pikirkan? Jangan-jangan kak takut dimarahi istrinya. Jangan khawatir kak, khan masih belum larut malam. Kak bisa buat alasan yang bisa meyakinkan istrinya. Masa sih dekat istri kak bisa selingkuh denganku, lalu hanya soal pulang terlambat tidak bisa diakali" katanya.

0 Response to "Hasil Penelitianku Bersama Sri"
Posting Komentar