Hasil Penelitianku Bersama Sri







"Gimana kalau anda beri surat kuasa padaku, biar aku yang wawancara sama teman atau orang lain yang kuketahui selingkuh," tawaranku padanya.

"Wah, malah itu jalan yang terbaik kak. Buat aja surat kuasanya kak, nanti kutandatangani. Soal biaya yang kakak keluarkan sehubungan dengan penelitian ini, aku siap tanggulangi semuanya asal bukan saya yang disuruh melakukannya," katanya seolah gembira sekali menyambutnya.

"Tapi terus terang aja dik, mungkin aku hanya minta kepada mereka agar bersedia menandatangani surat keterangan penelitiannya. Soal kejadian dan dampaknya, biar aku yang rekayasa kalimatnya," jelasku pada Sri.

"Nggak masalah kak. Yang penting karya ilmiahku bisa selesai dan ditandatangani oleh pembimbing serta aku bisa ikut ujian meja bersama teman-teman dalam waktu dekat ini," katanya pasrah padaku.


























"Tenang Sri, istri dan anak-anakku sedang tidur," bisikku pada Sri ketika ia mencoba menghindar dari perlakuanku, namun ia duduk kembali setelah melihat dengan jelas istriku sedang tidur pulas di depan TV melalui celah pintu yang sedikit terbuka.

"Kenapa harus sampai begini kak? Aku malu, takut dan tidak biasa diperlakukan seperti ini" tanyanya padaku dengan suara sedikit berbisik namun cukup mengerti kalau kami harus bertindak super hati-hati.

"Maaf dik, jika ini terpaksa harus kita lakukan di tempat ini, bukankah adik sendiri yang telah berjanji akan memberikan pengorbanan sesuai kemampuannya asal penyusunan karya ilmiahnya berjalan lancar?" kataku terus terang dan mengingatkan janjinya.

"Wah, ternyata kak menafsirkan sampai ke situ. Aku nggak pernah berpikir sampai ke hal itu kak, tapi.. " katanya seolah tidak tahu arahku ke situ. Namun aku yakin ia tidak bakal menolak tindakanku lebih jauh karena Sri tiba-tiba berucap "tapi.." yang menandakan adanya peluangku lebih jauh.





Karena sepakat akan menuntaskan seluruh permainan kami di kamar kerjaku itu, maka wajar jika kami saling membantu dan memudahkan terlaksananya hajat kami. Tanpa kuminta, Sripun melorot sedikit celananya hingga di atas lututnya. Aku tak sempat melihat apa Sri memakai celana dalam atau dilorit bersama celana panjangnya, tapi yang jelas paha mulus lagi putih itu terlihat dengan jelas, bahkan sampai ke batas pinggangnya. Namun Sri masih tetap dalam posisi duduk berhadapan denganku, sehingga aku sulit melihat dengan jelas barang mewah yang ada di selangkangannya tapi aku bisa meraba dan memainkannya dengan mudah. Mulutku akrab menempel di payudara kirinya, sementara tangan kiriku melekat di payudara kanannya dan tangan kananku tak mau pisah dengan sebuah daging yang tertancap pada dua bibir bawah di antara selangkangannya.


Namun Sri mencubit pinggangku lalu ia segera berdiri dan kedua tangannya langsung membuka ikat pinggang berikut kait serta kasper celanaku dengan lincah sekali. Setelah terlepas, kedua tangannya segera menurunkan celanaku, namun sedikit tertahan karena aku masih duduk di atas kursi, tapi aku sangat mengerti sehingga aku mengangkat pantat untuk memudahkan ia menurunkan celanaku hingga lutut. Tanpa disentuh dan digocok, penisku dengan sendirinya berdiri mengacung bagaikan kepala ular berbisa yang mau mematuk mangsanya. Tanpa perintah atau komando, Sri tiba-tiba duduk di antara kedua pahaku dan meraih ujung penisku lalu mengarahkan ke lubang memeknya yang sedikit basah dan licin itu, lalu merangkul leherku. Ia mulai menggoyang sedikit pinggulnya ke kiri dan kekanan agar penisku dapat dengan mudah masuk ke lubang sasarannya, namun agak sulit. Selain karena vagina Sri ditumbuhi bulu hitam yang cukup lebat, juga memeknya kuyakini belum terbiasa dimasuki benda tumpul seperti yang kami usahakan masuk saat ini.

Aku mencoba membantu untuk memasukkannya dengan memegang penisku serta membuka kedua bibir memeknya dengan kedua tanganku, tapi belum bisa amblas meskipun separohnya sudah mulai masuk dan kurasakan senti demi senti melejik ke dalam, apalahi gerakan pinggul dan tangan Sri tidak mau berhenti. Aku sebenarnya masih ingin menikmati permainan kami dengan lama sekali, tapi tiba-tiba terpikir akan terbangun istriku karena suara kaki kursi plastik yang selalu bergerak-gerak seiring dengan gerakan kami, maka aku konsentrasi lagi untuk menuntaskannya dengan segera. Gerakan pinggulku mengikuti gerakan pinggul Sri dan kami saling menekan masuk hingga akhirnya bisa amblas seluruhnya. Bunyi decak, decik, decukk, cak.. cikkk.. cukkk pun cukup menyela keheningan malam itu, yang membuat aku semakin khawatir istriku terganggu dan terbangun, sehingga kami mengatur kembali gerakan.
























Meskipun aku sedikit sadar dan mengingat apa yang baru kami sesali, namun aku sengaja tidak mau mengingatkan Sri, sebab aku lagi senang dan juga hal seperti ini sudah terlanjur kami lakukan. Tanpa kusadari, Sri sudah membuka kancing bajuku dan melepaskan dari tubuhku. Ia menyerang sangat lincah dan seolah lupa segalanya. Ia menyapu seluruh tubuhku dengan ciuman dan jilatan, mulai dari wajah, dagu, leher, bibir dan mulut hingga ke pusar. Tangannya sangat aktif merangkul dan meraba-raba tubuhku hingga masuk ke selangkanganku dari atas ke dalam celanaku. Akupun tidak mampu menahan tangan yang sejak tadi bergerak-gerak ingin memegang benda-benda kenyal dan langkah ditemukan di pasaran yang ada pada tubuh Sri. Meremas-remas kedua payudara Sri yang masih keras dan ukuran sangat sederhana, membuka kancing baju dan BH serta mengelus-elus kelentit Sri yang mungil lagi keras adalah menjadi aktifitas khusus kedua tangan saya tanpa komando dari siapa-siapa. Semua ini kami lakukan dalam keadaan berdiri di depan tempat tidur Sri.






Berkali-kali ia memintaku dengan nafas terengah-engah seolah sesak. Bahkan kali ini ia meraih penisku dan menuntun ke arah memeknya, tapi aku tetap menahannya dan mermbiarkan ia semakin penasaran agar kami bisa bermain lebih lama di kamarnya. Berkali-kali pintu rumahnya terdengar diketuk-ketuk orang, tapi Sri tetap tidak peduli. Ia yakin kalau itu hanya tamu bapaknya, sementara bapaknya besok baru pulang karena baru tadi siang berangkatnya. Ia konsentrasikan dirinya pada kenikmatan yang ia harapkan segera kuberikan. Setelah aku puas memainkan lidah, bibir dan mulutku pada seluruh tubuhnya, terutama pada rongga mulut, payudara dan rongga kemaluannya, lalu secara pelan-pelan ujung penisku menyentuh bibir vaginanya, sehingga pinggulnya terangkat-angkat secara otomatis dan sesekali merangkul pinggulku dan menariknya turun, namun tetap kupertahankan untuk tidak terburu-buru.











"Apakah kak juga merasa puas seperti aku?" tanya Sri serius.

"Aku puas menikmati tubuhmu dik, cuma aku belum sampai ke puncaknya" jawabku sambil memeluk Sri dan meletakkan paha kananku menindis vagina montoknya yang belum banyak ditumbuhi bulu-bulu itu.

"Jadi kak mau lanjutkan untuk menuju ke puncak sekarang" tanya Sri sambil tersenyum, lalu kembali memelukku dengan erat.

"Sebelumnya aku mohon maaf dik Sri. Banyak sekali teknik dan gaya sex yang ingin kutunjukkan padamu, tapi kulihat Sri sudah terlalu capek dan sudah cukup menikmati perselingkuhan kita hari ini, maka aku rasa adik tidak keberatan jika ronde kedua ini hanya untuk kenikmatan pribadiku" kataku hati-hati pada Sri agar ia tidak tersinggung.

"Terima kasih kak atas kebijaksanaannya. Aku justru senang dan merasa berkewajiban melayani kak hingga puncak kepuasan. Masa sih aku senang sendiri membiarkan kak pulang dengan rasa penasaran tanpa kesan puas" kata Sri pasrah, bahkan merasa berkewajiban untuk memuaskanku.

"Terima kasih dik atas kesediaannya, mmm... Cup..." kataku lalu mengecup bibirnya berkali-kali sebagai tanda kegembiraanku.








Namun baru aku mau minta izin pada Sri agar aku bisa keluarkan spermaku ke dalam vaginanya, sperma itupun tumpah dengan sendirinya tanpa bisa lagi ditunda setapak pun. Bersamaan dengan itu, aku mengangkat pinggulku dan kepalaku untuk merapatkan tubuhku pada Sri dan meraih kedua payudaranya yang loncat-loncat dengan indahnya sejak tadi serta menarik-nariknya dengan keras. Namun Sri membiarkanku, bahkan ia mulai juga melenguh seolah merasakan suatu kenikmatan. Baru aku mau melemaskan seluruh otot-ototku yang sejak tadi kejang-kejang akibat kenikmatan luar biasa, tiba-tiba Sri menyelusupkan tangannya masuk ke selangkangannya dan memegang penisku yang sedikit mulai loyo seolah ia belum mau keluarkan dari vaginanya. Aku tersentak kaget, karena aku tidak bermaksud membebaninya dengan kenikmatan lagi, apalagi jika sampai terangsang lagi. Bisa-bisa zat kelaminku dibuahinya.




"Kak, kenapa termenung? Apa kak kecewa dan tak puas atas layananku tadi atau menyesal memenuhi panggilanku ke sini?" tanya Sri saat aku terdiam sejenak memikirkan akibat perbuatan kami. Teguran Sri membuatku kaget.

"Tttitidak, aku hanya takut kamu tidak puas dan kecewa tadi" alasanku.

"Saya tahu yang kak pikir, pasti takut aku tidak bayar biaya penyusunan karya ilmiah itu, yah khan?" kata Sri mencoba menebak isi pikiranku.

"Bukan itu dik, aku sama sekali tak pikir ke situ. Lagi pula aku berat dan malu memikirkan hal itu setelah Sri memberiku segalanya" kataku.

"Lalu apa yang kak pikirkan? Jangan-jangan kak takut dimarahi istrinya. Jangan khawatir kak, khan masih belum larut malam. Kak bisa buat alasan yang bisa meyakinkan istrinya. Masa sih dekat istri kak bisa selingkuh denganku, lalu hanya soal pulang terlambat tidak bisa diakali" katanya.









Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hasil Penelitianku Bersama Sri"

Posting Komentar